Selasa, 19 Mei 2015

The Power of Do'a

Tidak ada hal yang yang akan memberikan kedamaian, kebahagiaan dan kekuatan kepada kita selain dari ketaatan kita kepada Allah Tuhan semesta alam. Semua masalah selalu ada solusi dan dari sekian banyak masalah dan sekian banyak solusi, tidak ada solusi yang lebih dahsyat kecuali segalanya kita kembalikan kepada Allah Tuhan semesta alam, karena Dia lah sumber dari segala sumber kekuatan, Dia lah yang mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki dalam hidup ini.

Saat kita inginkan mobil atau rumah mewah, lalu kemudian kita mendapatkan mobil dan rumah mewah tersebut pasti kita bahagia, tapi bahagianya hanya beberapa bulan saja, dibulan-bulan berikutnya kita akan merasa biasa dengan mobil dan rumah mewah tersebut. Tapi ketika kita mampu merasakan kehadiran Allah dalam hati pada masa sulit atau pun lapang, hati akan tetap tenang. Saat kita memiliki barang-barang berharga maka kita akan menjaga barang-barang tersebut, tapi ketika kita memiliki hati yang di dalamnya  mampu merasakan kehadiran Allah, maka kita yang akan dijaga oleh keyakinan itu.

Orang-orang yang beriman kepada-Nya mengetahui bahwa penangkal segala kecemasan dan kegalauan adalah dengan berserah kepada-Nya, memohon dan meminta pertolongan kepada-Nya karena Dia Sang Maha pencipta yang memiliki kekuatan tak terbatas yang merespon saat diminta. memohon segala sesuatu kepada-Nya yang sering kita ungkapkan lewat lantunan do'a-do'a kita akan memberikan energi yang paling kuat pada diri kita.

Do'a adalah langkah pertama menuju tindakan. Do'a akan mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Bahkan dalam Hadits dikatan bahwa "“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi). Do'a adalah solusi dari setiap masalah. Bukan dengan melihat masalahnya lalu memperdebatkan dan membesar-besarkan nya, hal itu hanya akan membuat diri kita terbelenggu oleh masalah. Allah minta kepada kita untuk senantiasa berdo'a dan sabar berserah pada-Nya.

Sesungguhnya Allah berfirman: "Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdo'a kepada-Ku.". Percayalah dengan do'a-do'a yang kita lantunkan semuanya akan dijawab oleh Allah bahkan Dia akan menjawab lebih dari yang kita pinta, karena yang lebih tahu tentang kebutuhan kita adalah Dia Sang Maha Pencipta.

William james, seorang pelopor psikologi asal Amerika serikat pernah mengungkapkan dalam tulisannya; "Keimanan adalah  salah satu kekuatan yang mendorong manusia hidup, dan ketiadaan keimanan berarti kehancuran."

Terima kasih dan tetaplah berdo'a !

Senin, 18 Mei 2015

Stop Mencela Dosa Orang Lain

Tugas kita dalam hidup ini adalah terus memperbaiki diri dan mengajak orang lain disekitar kita untuk berbuat baik. Mengurusi kejelekan orang lain bahkan sampai menghakiminya itu bukan tugas kita. Kalau diri ini disibukan dengan mengurusi dosa dan kejelekan orang lain terkadang lupa terhadap dosa dan kejelekan diri sendiri. Siapapun yang berbuat maka ia akan dihakimi dengan perbuatannya tersebut, jangan terlalu sibuk mengurusi yang bukan urusan kita, jangan terlalu sibuk memikirkan yang seharusnya tidak kita pikirkan.

Bahkan dalam memberikan nasehat pun harus berhati-hati, luruskan niat, menasehati itu harus dilandasi dengan keikhlasan, ketulusan dan kasih sayang dari dalam hati. Saat nasehat kita diterima dan memberikan dampak yang baik bagi dia yang kita nasehati itu semata-mata karena Allah yang telah membukakan hatinya, jangan pernah merasa hebat karena kita telah memberikan nasehat dan membuat dia berubah dengan nasehat kita.

Dan waspadalah, kita akan diuji dengan apa yang kita nasehatkan. Kalau kita menasehatkan tentang kesabaran maka suatu saat Allah akan menguji kesabaran kita. Nasehatkan tentang pacaran maka suatu saat kita pasti akan diuji dengan hal itu. Ada orang yang dulunya anti pacaran, ia nasehati kiri kanan orang-orang untuk tidak berpacaran, lalu kemudian Allah uji dia dengan yang ia nasehatkan, dan pada akhirnya tidak sedikit yang tidak lulus dengan ujiannya, yang dulunya dia "penasehat" untuk orang pacaran, di kemudian hari ia menjadi "pelakunya".

Yang salah bukan nasehatnya, tapi hati yang terkadang bengkok dalam memberikan nasehat, kadang tercampur dengan kesombongan merasa diri suci, terkadang kita merasa diri sedang menasehati padahal sedang menghakimi, mencela bahkan mencaci. Dan ini harus lebih waspada lagi, benar-benar harus waspada, karena Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa yang menjelekkan saudaranya dengan dosa (yang pernah diperbuatnya), maka orang tersebut tidak akan mati sebelum melakukan dosa tersebut. (HR. Tirmidzi)"

Berhentilah menjelek-jelekan saudara kita yang berbuat dosa, kita tidak boleh menjelek-jelekkan dia yang berbuat dosa bukan karena siapa dia, tapi karena siapa kita. Mencela tidak akan memberikan kebaikan. "Maukah  kalian aku tunjukan sesuatu, jika kalian mengerjakannya, maka akan timbul rasa saling mencintai diantara kalian. Yaitu sebarkanlah salam (HR. Muslim)". Inti dari kalimat salam adalah do'a.

Yang paling dibutuhkan saudara kita adalah do'a, dan do'a yang baik akan kembali kepada diri kita sendiri. Dan berikan nasehat bila perlu, dengan nasehat yang elegan, nasehat yang timbul dari ketulusan hati yang penuh dengan kasih sayang. Yang paling pas dalam memberikan nasehat adalah berbagi pengalaman dan berbagi ilmu.

Terima Kasih..

Senin, 06 April 2015

Luka Menguatkan

Apa yang kita tanam maka itulah nanti apa yang akan kita petik, kalau kita menanam kebaikan maka nanti kita akan menuai kebaikan. Tapi apa yang kita tuai hari ini belum tentu ia adalah tanaman kita di masa lalu. Kejadian buruk hari ini yang kita rasakan belum tentu itu adalah balasan perbuatan buruk kita dimasa lalu. Karena kejadian buruk yang saat ini menimpa kita, bisa jadi ia hasil perbuatan kita dimasa lalu, bisa juga ujian untuk kita.

Ada beberapa orang yang saya kenal yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, ia diperlakukan sangat tidak manusiawi,beraneka kepedihan ia rasakan dalam rumah tangganya, yang pada akhirnya gagal-lah ia dalam berumah tangga. Padahal yang saya kenal mereka adalah wanita solehah, ketika masa remajanya ia wanita terhormat yang mampu menjaga diri  jauh dari pergaulan yang tidak baik. Tapi kenapa ia mengalami beraneka kepedihan dan luka dalam hidupnya, menurut hemat saya inilah cobaan hidup yang akan meningkatkan derajat ia disisi Allah SWT.

Salah satu orang tersebut saat ini sudah mampu melewati masa-masa kepedihan itu, dan pada akhirnya setelah beliau mengalami luka yang begitu sangat dalam, beliau lewati dengan bersabar dan bersandar pada Sang Pemilik Kekuatan, saat ini beliau hidupnya lebih berkelas. Dimata orang-orang sekitar beliau dihormati dan hidupnya selalu menebar manfaat. Episode-episode luka dalam hidupnya mampu ia lewati dan pada akhirnya bahagia yang ia raih. Kalau benar menjalaninya hidup ini akan berakhir bahagia, kalau belum bahagia berarti hidup ini belum berakhir.

Rosululloh sering dihina,dicaci maki, didzalimi, dan disakiti, padahal beliau tidak pernah menghina, mencaci, mendzalimi dan menyakiti orang lain. Itulah bentuk kasih sayang Allah untuk menguatkan Rasululloh SAW. Saya juga baca sejarah-sejarah parah Nabi dan orang-orang besar yang mulia pada akhir episode kehidupannya, ternyata mereka yang pada akhirnya menjadi mulia adalah mereka yang mampu melewati kepedihan dan menaklukan penderitaan.

Kalau kita ingin menjadi orang besar yang mulia, maka jangan takut menghadapi cobaan berupa penderitaan dan luka, jangan lari dari masalah karena ia yang akan mendewasakan kita, hadapi dengan tetap berserah pada Allah SWT. Berpikir positiflah kepada Allah bahwa luka ini adalah cara Allah menguatkan kita, cara Allah medewasakan kita. Semua akan baik-baik saja, Allah akan memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai dengan porsinya, tidak mungkin Allah memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya. Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang tidak mungkin Allah Dzalim kepada hamba-Nya.

Renungkan kasih sayang ayah bunda kepada anaknya yang begitu sangat luar biasa, meskipun anaknya sering mengecewakannya tapi ayah bunda tetap sayang. Siapa yang menitipkan rasa kasih sayang dihati ayah bunda? Dialah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kecintaan Allah kepada kita melebihi kecintaan ayah bunda kepada kita. Jadi puncak dari berbakti kepada ayah bunda adalah pengabdian kita kepada Allah.

Apa yang saat ini menimpa kita baik berupa luka atau bahagia semuanya adalah kasih sayang Allah. Saat kita berbuat jahat lalu Allah berikan musibah itu adalah peringatan supaya kita kembali kepada jalan yang benar. Saat kita berbuat baik tapi Allah memberikan luka, itu semata-mata untuk menguji keimanan kita dan menguatkannya. Maha Baik Allah..

Terima kasih..

Hukum Kehidupan

Kamu sering gak bahagia?, lalu berharap ingin selalu bahagia?, memangnya sudah berapa sering kamu bikin orang lain bahagia? atau jangan-jangan malah sering membuat orang lain kecewa, bersedih, dan bahkan menderita?. Oke , baiklah, jadi begini yah, kalau harapan kita ingin bahagia tapi dalam hidup dan kehidupan ini yang selalu kita perbuat adalah mengecewakan orang lain, membuat orang lain bersedih bahkan menderita. It's Impossible. Gak mungkin banget.

Rumus kehidupan ini sederhana jika kita ingin bahagia maka bahagiakanlah orang lain, jika ingin dicintai maka belajarlah mencintai orang-orang sekitar dengan tulus, cintailah kehidupan maka kehidupan akan mencintai kita. Jangan berharap kehidupan akan baik sama kita kalau yang kita lakukan adalah selalu mengutuk kehidupan, selalu menyalahkan kehidupan, bahkan alam pun disalahkan. Dikasih hujan mengeluh, dikasih panas menggerutu. 

Kehidupan ini baik karena yang mengatur kehidupan ini adalah Allah yang Maha Baik, seburuk apapun peristiwa yang menimpa kita, tujuannya adalah membuat kita menjadi lebih baik.

Sekarang kita berharap kebahagiaan tapi kita sendiri mengabaikan hal-hal baik dalam hidup ini, selalu berharap mendapatkan kebaikan, tapi memperlakukan kehidupan ini tidak baik, ingin dihargai tapi tidak bisa menghargai orang lain, ingin dimengerti tapi tidak mau mengerti orang lain. Saya percaya, seratus persen saya percaya bahwa kalau kita sudah memperlakukan orang lain dengan baik, menghargai, mencintai dengan tulus, bahkan mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi, percayalah tidak diminta pun kehidupan akan membuat kita menjadi manusia yang dicintai.

Karena perbuatan baik dan buruk kita dicatat dengan baik oleh malaikat pencatat amal, sekecil apapun perbuatan itu dan akan dibalas dengan sempurna, tidak akan pernah keliru dan tidak akan pernah tertukar antara catatan kebaikan atau keburukan kita dengan orang lain. Kalau yang kita tanam kebaikan maka kebaikan pula yang kelak kita petik, dalam pepatah orang sunda dikatakan "Ratu tara ngahukum pamarentah tara nyiksa, anging laku lampah anu bakal jadi hakimna diri, melak cabe buah cabe, melak bonteng buah bonteng. Dina hartian melak hade buah hade melak goreng buah goreng". Intinya adalah, yang akan menghakimi kita adalah perbuatan kita, apa yang kita tanam itulah apa yang nantinya kita akan petik.

Ya kalau ingin bahagia jadilah sumber kebahagiaan untuk orang lain, mulai dari hal kecil, misalnya dengan menjadi pendengar yang baik untuk teman kita yang sedang bercerita, buat orang lain merasa penting ketika berhadapan dengan kita, atau saat jauh pun dia merasa dipentingkan, bagaimana caranya? misalnya dengan membalas chat di BBM dengan hangat dan penuh ekspresi, bukan untuk tebar pesona, tapi niatkan karena Allah ingin membahagiakan dia. Buat kita mungkin dia yang nge-bbm bukan siapa-siapa, tapi jawaban atau balasan dari kita itu akan membuat dia merasa berharga.

Bagaimana rasanya jika sapaan kita hanya dibaca tanpa dibalas? gak enak kan?, orang lain pun sama saat pesannya cuma kita baca tanpa di balas akan merasakan hal yang sama. Pandailah merasakan apa yang orang lain rasakan. Hindarilah jawabnya yang hanya kata "oh","iya" atau bahkan hanya hurup 'O", "Y". Coba tambahkan emot senyum atau hal-hal yang membuat hangat suasana chat.

Yang harus menjadi catatan adalah, kita harus menghargai orang lain, tapi kita jangan ingin dihargai. Buat orang lain merasa dirinya penting, tapi kita jangan ingin diperlakukan istimewa karena merasa menjadi orang penting. Sertai perbuatan kita dengan ketulusan hanya untuk Allah bukan untuk pencitraan.

Terima Kasih..

Jumat, 27 Maret 2015

Pilihan

Pada hakikatnya hidup ini menjalani takdir, tapi pada syariatnya hidup ini adalah pilihan. Kita menjadi apa hari ini adalah pilihan kita hari kemarin, dan kita menjadi apa esok hari tergantung pilihan kita hari ini. Kalau hari ini kita memilih hidup dengan bergelimang kemaksiatan dan bangga bercumbu dengan dosa-dosa, maka sudah pasti kesengsaraan sudah menanti di masa depan. Kalau hari ini kita sabar meski kadang ada luka, sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, maka percayalah kebahagiaan yang pasti akan kita dapatkan.

"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (16: 96)

Hidup ini seperti abjad B-C-D, kalau B kita artikan Born (kelahiran), dan D kita artikan Dead (kematian), maka antara B dan D ada huruf C yang kita artikan Choice (pilihan). Maka antara kelahiran dan kematian, ditengah-tengahnya ada kehidupan yang pilihannya ada ditangan kita. Kelahiran dan kematian itu wilayahnya Allah, kita tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa dan mati mau kapan dan dengan cara apa. Tapi kita punya kehidupan yang baik dan buruknya pilihan ada ditangan kita. Pilihan yang saat ini kita ambil menentukan kehidupan kita dan nanti akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah.

Kehidupan ini menganugerahkan dua pilihan kepada kita, pilih menjadi manusia biasa atau menjadi manusia istimewa. Ibarat batu alam, ada batu koral yang harganya murah, tentu mudah sekali didapatkan karena banyak tersedia di alam, dan ada batu mulia, seperti berlian atau saat ini sedang booming batu akik seperti safir, merah delima dan lain-lain yang harganya fantastis dan tidak mudah untuk mendapatkannya. Batu koral adalah batu "biasa" dan batu berlian adalah batu "istimewa".

Pilih menjadi manusia biasa yang harganya murah dan mudah didapatkan atau menjadi manusia yang istimewa berharga, berkelas dan sulit didapatkan?. Pilihan ada ditangan kita. Tentu kita harus faham yang membedakan manusia biasa dan istimewa bukan dari fisik atau rupa seperti batu alam, tapi dari keimanan dan ketakwaan. Bukan dari warna kulit, bentuk mata atau bentuk badan tapi dari hati.

Muslim yang biasa di sepertiga malam ia akan tidur pulas dengan selimut membalut tubuhnya, atau bergadang yang tiada artinya. Tapi manusia istimewa, ia gunakan sepertiga malam itu untuk berkhalwat dengan Allah, bermunajat, bersimpuh dihadapan Allah Sang Pencipta. Air matanya untuk Allah, air mata pertaubatan atau air mata kerinduan ingin jumpa dengan Allah, tersungkur sujud dihadapan Allah. Berharap akan rohmat Allah dan takut akan adzab Allah. Orang istimewa malamnya menangis dihadapan Allah, siangnya tersenyum dihadapan manusia untuk memberi semangat dan manfaat. Orang yang istimewa diamnya adalah dzikir, ucapannya penuh dengan hikmah, perkataanya bijak tidak melukai sesama.

Anak muda yang istimewa fokus mendekatkan diri kepada Allah, hidupnya penuh prestasi bukan penuh sensasi, hidupnya terus berkarya bukan terus banyak bergaya, waktunya ia gunakan untuk meningkatkan kualitas dirinya bukan "berpacaran", #upss, he..

Hidup adalah pilihan. Allah SWT berfirman dalam surat al-Insan ayat 3 : "Sesungguhnya kami telah menunjukkannya jalan yang lurus, ada yang bersyukur (mengikutinya) dan ada pula yang kafir”. Allah menunjukan jalan yang lurus, sebagai hambanya masa iya kita tidak mau mengikutinya. Meskipun Allah memberikan kebebasan - "Dan katakanlah : kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah kafir.”( al-Kahfi : 29 )-. Tapi semua ada konsekuensinya.

Terima kasih..

Kamis, 26 Maret 2015

Cantiknya Tuh Di sini



Menurut guru saya, Pak Jamil Azzaini diri kita ini ibarat botol air dan isinya. Harga botol tergantung isi yang ada di dalamnya, kalau sebuah botol isinya air mineral, maka harganya cuma sekitar 3000 rupiah, kalau botol itu isinya diganti dengan madu berkualitas, maka harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah, dan kalau diganti dengan parfum berkualitas dunia, maka harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Hal itu bukan hanya terjadi antara botol dan isinya, tetapi juga antara kita dan kualitas diri kita, semua manusia boleh jadi memiliki fisik yang relatif sama, tapi yang menentukan kualitas seseorang adalah isi dalam dirinya, baik itu isi kepala berupa ilmu, wawasan atau pengetahuan. Tapi yang lebih penting dari itu adalah isi hati.

Kualitas seseorang bukan ditentukan oleh merk baju yang dia pakai, bukan pula oleh fisik yang tampan dan gagah, atau cantik dan molek, tapi oleh isi yang ada di dalamnya. Agak sedikit malu dong ketika kita pake jas bermerk internasional, tapi saat diajak diskusi gak nyambung. He.. Makanya ada sebuah pepatah yang mengatakan, “investasikan uangmu untuk leher keatas”. Maksudnya untuk isi kepala kita. Jangan pelit mengeluarkan uang untuk membeli buku, atau untuk mengikuti training atau seminar. Jangan maunya gratisan melulu, mau baca buku minjem aja terus, beda halnya kalau nonton ke bioskop rutin tiap weekend. Ditawarin training mintanya gratisan mulu.

Selain isi kepala, yang terpenting adalah isi hati. Buang penyakit-penyakit hati seperti sombong, merasa diri paling oke, iri dengki, haus pujian dan beraneka penyakit hati lainnya. Buang penyakit hati dan isi dengan hal-hal positif. “sesungguhnya Allah tidak melihat fisik atau rupamu tetapi Allah melihat hatimu”. Kalau hati kita bersih jernih itu akan nampak pada pelayanan kita dalam hidup.
Karena hakikatnya hidup ini adalah melayani, orangtua melayani anak, anak melayani orangtua, pengusaha melayani costumer, guru melayani murid, pemerintah melayani rakyat. Bagi pembicara seperti saya hidup adalah melayani peserta training, seminar atau melayani orang yang sekedar ingin curhat.

Maka dalam hidup layanilah orang di sekitar kita dengan hati yang bersih, jernih dan penuh keikhlasan. Percayalah, orang yang hatinya bersih nampak wajahnya akan bercahaya dan awet muda, karena ada kecantikan atau ketampanan yang terlahir dari dalam yang disebut dengan istilah inner beauty. Teko yang berisi kopi tidak mungkin akan mengeluarkan bajigur, ia pasti akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya  yaitu kopi.

Agar hati dan pikiran tetap bersih pastikan yang masuk ke dalam hati dan pikiran adalah hal-hal positif. Hindari tontonan yang tidak bermutu bahkan memadharatkan, yang mengotori pikiran dan hati, juga menambah dosa. Ketika dulu saya punya televisi –sekarang saya tidak punya televisi karena saya kasih sama orang- saya sering ikut komentar bahkan ikut jelek-jelekin artis yang lagi diberitakan kalau lagi nonton acara gosip, Astagfirulloh.. Sekarang saya sadari bahwa itu akan menambah dosa saya.

Karena itu, mari kita tingkatkan kualitas diri kita dengan memperbaiki dan meningkatkan apa yang ada di dalam diri. Percantik diri dari dalam agar dicintai sesama dan disayangi Allah.

Terima kasih..


Rabu, 25 Maret 2015

Manusia Semanis Brownies

Brownies adalah salah satu makanan favorit saya dan banyak orang, rasanya yang manis cokelat dengan tekstur yang lembut, selembut hati bidadari dunia mungkin.. hehe. Apalagi menyantapnya bersama orang tercinta duduk manis diteras sambil menikmati udara pagi dilengkapi dengan kopi atau teh hijau.
Ternyata cara membuat brownies itu relatif mudah dengan bahan-bahan yang mudah didapatkan dan cara membuatnya yang tidak terlalu rumit. Untuk mendapatkan brownies yang ideal dengan tekstur yang lembut dan rasa yang nikmat kita harus tepat memberikan takaran pada setiap bahan, antara terigu, telur, cokelat bubuk, susu kental, gula dan bahan lainnya.

Nah sama halnya dengan membuat brownies yang lembut, untuk membentuk karakter diri kita pun harus seimbang memadukan antara kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Tapi sayangnya pendidikan di Indonesia saat ini dari mulai tingkatan sekolah dasar sampai perguruan tinggi yang ditonjolkan hanya kecerdasan intelektual saja.

Kalau belajar tentang hukum pidana saja tanpa memperhatikan suara hati nurani maka yang terjadi adalah nenek dipidanakan, sudah berapa banyak nenek yang dipidanakan gara-gara masalah sepele?-jika dibandingkan dengan masalah koruptor-, ada juga ibu kandung yang dipidanakan oleh anak kandungnya. Hatinya jadi keras ibarat brownies yang kebanyakan terigu.

Padahal menurut eQi (Emotion Quotient Inventory) kecerdasan intelektual hanya berperan 6% - 20% dalam keberhasilan atau kesuksesan seseorang. Yang berperan penting dalam menunjang keberhasilan seseorang adalah kecerdasan emosional. Attitude yang baik itu lebih utama daripada skill dan knowledge. Namun tidak cukup hanya sampai meningkatkan kecerdasan emosi saja, banyak orang yang sukses tapi tidak bahagia hatinya terasa hampa.

Karir yang cemerlang, uang yang banyak, mobil mewah, rumah megah, anak istri atau suami yang setia dan perhatian tidak menjamin kebahagiaan, yang berperan penting menjadikan kita bahagia adalah kecerdasan spiritual yaitu ketaatan kita kepada Tuhan.

Seimbangkan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual agar kita menjadi manusia yang ideal, seperti brownies yang lezat, nikmat manis dan lembut.

Terima kasih.